PWNU DIY Serukan Penguatan Toleransi Antarumat Beragama

Yogyakarta, – Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Daerah Istimewa Yogyakarta menyerukan penguatan toleransi antarumat beragama, ras, dan antargolongan di Indonesia menyusul peristiwa penembakan di dua masjid di Selandia Baru.

“Peristiwa itu semakin membuktikan bahwa urusan toleransi dan kerukunan antarumat beragama memang harus terus kita pupuk dan pelihara,” kata Wakil Ketua PWNU DIY Fahmi Akbar Idris di Yogyakarta, Sabtu.

Menurut dia, pemeluk agama manapun baik Islam, Kristen, Katolik, Hindu, maupun Budha tidak ada yang menginginkan adanya kekerasan atas nama agama atau atas nama perbedaan primordial lainnya.

Peristiwa penembakan di Selandia Baru, kata Fahmi, merupakan teror yang patut dikecam seluruh penduduk dunia dari latar belakang apapun. 

“Peristiwa semacam itu sangat mungkin terjadi di Indonesia apabila rasa toleransi telah hilang. Apalagi hal-hal yang sifatnya rasa itu bisa berubah-ubah, bisa naik dan turun,” kata dia.

Oleh sebab itu, selain menyerukan penguatan toleransi, PWNU DIY melalui seluruh pengurus di kabupaten/kota bersama komponen masyarakat lainnya akan berupaya mengikis paham-paham ekstremisme, radikalisme, serta terus menyemai rasa saling menghormati di tengah masyarakat.

“Tentu saja kami berharap masyarakat dari pemeluk agama manapun tidak terpancing dengan situasi seperti itu, sehingga tidak menimbulkan dendam-dendam primordial yang berkaitan dengan agama, warna kulit, ras, atau apapun,” kata Fahmi.

Menurut Fahmi, tokoh masyarakat maupun agama di berbagai pelosok daerah memiliki peran penting untuk terus menebarkan pesan perdamaian, serta keharmonisan, bukan justru memprovokasi masyarakat dengan mengangkat isu-isu yang bisa memicu perpecahan.

“Salah satu tugas tokoh agama adalah mendamaikan dan membangun keharmonisan di tengah masyarakat, tidak boleh tidak,” kata dia.

Tokoh masyarakat maupun antar agama di berbagai daerah dapat saling berdialog dan memperbincangkan isu-isu yang menjadi musuh bersama seperti korupsi, kemiskinan, serta kebodohan. “Saya kira dengan semakin sering berdialog, bertemu, kemudian membicarakan tama-tama yang dihadapi bersama bisa menguatkan toleransi dan persatuan,” kata dia. (Ant)